Jl.Tanjung Pasir No. 02 Teluknaga, Tangerang eddystrada@gmail.com 0812-9802-2717 skypeid

Showing posts with label Pesan Uskup. Show all posts
Showing posts with label Pesan Uskup. Show all posts

Thursday, May 5, 2016

KERAHIMAN YANG MEMERDEKAKAN

Surat Gembala Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah - (Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Misa Sabtu/Minggu, 12/13 Desember 2015)

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1. Pada perayaan syukur dua tahun diangkat sebagai pimpinan tertinggi Gereja (13 Maret 2015), Paus Fransiskus mengumumkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci (=Yubileum) Luar Biasa Kerahiman Allah. Tahun Suci ini dimulai pada tanggal 8 Desember 2015 (Pesta Maria dikandung tanpa noda dan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II) dan akan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, tanggal 20 November 2016. Pemakluman resmi dilakukan oleh Paus Fransiskus pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 11 April 2015, dengan mengeluarkan bulla yang berjudul “Misericordiae Vultus” (=Wajah Kerahiman).

2. Tahun Suci berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Setiap lima puluh tahun, Tahun Suci dirayakan untuk mengembalikan keseimbangan hidup bersama sebagai Umat Allah. Pada tahun itu semua warga Umat Allah yang menjadi hamba harus dibebaskan, semua tanah yang dijual harus dikembalikan kepada pemiliknya, semua hutang dihapus. Gereja mengambil alih tradisi ini dan sejak tahun 1475, atas penetapan Paus Paulus II, merayakannya setiap 25 tahun. Tahun Suci Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 2000, ketika umat manusia memasuki milenium yang ketiga. Selain Tahun Suci Biasa, Gereja juga merayakan Tahun Suci Luar Biasa. Tahun Suci Luar Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 1983, untuk mengenangkan seribu sembilan ratus lima puluh tahun karya penebusan Kristus.

Saudari/saudara yang terkasih,
3. Pada tanggal 25 Desember 2005, Paus Benediktus XVI mengeluarkan ensiklik berjudul “Allah Adalah Kasih”. Salah satu tujuan penulisan ensiklik itu dinyatakan dalam bagian pengantar, yang antara lain mengatakan, “Dalam dunia, di mana nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan kewajiban akan kebencian dan kekerasan, pesan ini (=Allah adalah Kasih) amat aktual dan mengena” (no. 1). Pertanyaannya, apa alasan yang mendorong Paus Fransiskus untuk memaklumkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah? Jawaban atas pertanyaan ini rupanya harus dicari dalam bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa dan dalam tindakan-tindakan simbolik yang dilakukan oleh Paus Fransiskus seperti yang dapat kita saksikan dalam tayangan media massa dan media sosial akhir-akhir ini.
  • 3.1. Dalam bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa ini, Paus antara lain menyatakan, “Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebahagiaan bergantung pada uang dan bahwa, dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai atau martabatnya.  … Kekerasan yang ditimpakan kepada orang lain demi menimbun kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun berkuasa atau tidak mati” (MV no. 19.1). Paus juga menyinggung gejala korupsi dan menulis, “Luka-luka bernanah (akibat korupsi) ini merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan, karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat. Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan, karena kerakusannya yang lalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah …. skandal publik yang berat” (MV no. 19.2).
  • 3.2. Sejak awal pelayanannya sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus melakukan amat banyak tindakan simbolik. Salah satunya pada tanggal 8 Juli 2013, Paus mengadakan perjalanan pertama ke luar kota Roma. Yang ia tuju adalah Pulau Lampedusa di Italia Selatan. Ia pergi ke sana setelah mendengar banyak kaum imigran mati dalam usaha menyeberang laut dari pantai Afrika. Di tempat itu ia mengkritik “globalisasi sikap tidak peduli – yang disebabkan oleh budaya kenikmatan” dan menunjukkan keberpihakan kepada kaum imigran. Ia mempersembahkan misa dengan piala yang dibuat dari kayu yang diambil dari perahu rusak yang pernah membawa imigran dari Afrika menuju pulau itu. Banyak dari antara mereka yang naik perahu itu tidak pernah mencapai tujuan. Altar yang dipakai adalah kapal kecil yang sedikit dicat. Tempat upacara adalah lapangan yang menjadi tempat penampungan para pengungsi itu. Dia juga menaburkan bunga ke pantai untuk mengenang orang-orang yang mati di laut. Upacara ini disiarkan ke seluruh dunia dan diharapkan dapat “mengusik” suara hati sekian banyak pemirsa. Ketika ia mendengar bahwa ada satu pabrik di Bangladesh yang terbakar – pabrik baju yang dikirim dengan merek Eropa –  dialah yang pertama kali memperhatikannya, sambil mengkritik banyaknya perusahaan yang memperlakukan buruh sebagai “pekerja budak”.

4. Di tengah-tengah keadaan dunia yang seperti inilah, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk memperdalam pemahaman dan keyakinan kita bahwa Allah adalah Maharahim, mengalaminya secara pribadi, menjalankan pertobatan dan mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan yang nyata.
  • 4.1. Bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah berjudul “Wajah Kerahiman”. Kerahiman Allah dialami melalui tindakan-Nya yang nyata, sebagaimana diwartakan oleh Nabi Zefanya. Pertama, Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas umat-Nya (3:15). Ia memerdekakan manusia dari belenggu dosa yang menyebabkan manusia tidak lagi mengenal dan mengakui Allah yang seharusnya meraja dalam hidup manusia. Manusia merdeka adalah dia yang menempatkan Allah di atas segala-galanya. Kedua, Ia hadir di tengah-tengah umat-Nya (3:17), kehadiran yang menyatakan belarasa dan kesetiakawanan-Nya. Kehadiran ini mampu memberi arti baru bagi hidup manusia, dan dengan demikian membuatnya menjadi manusia yang merdeka. Ketiga, Ia membarui umat dengan kasih-Nya (3:17). Kehadiran, kasih dan kerahiman-Nya mempunyai daya yang membarui kehidupan dan memerdekakan. Kerahiman Allah itu menjelma dan masuk ke dalam sejarah umat manusia, dalam diri Yesus Kristus. Dialah wajah sempurna kerahiman Allah.
  • 4.2. Pengalaman akan kerahiman Allah ini dengan sendirinya akan mendorong pertobatan dan pembaharuan hidup. Inilah yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus dengan mengatakan, “Semoga warta kerahiman menjangkau setiap orang, dan semoga tidak seorang pun acuh tak acuh terhadap panggilan untuk mengalami kerahiman-Nya. Dengan penuh harapan saya menyampaikan undangan untuk bertobat ini kepada orang-orang yang perilaku hidupnya menjauhkan mereka dari rahmat Allah” (MV no. 19).
  • 4.3. Selanjutnya Paus Fransiskus menyebut pihak-pihak tertentu yang secara khusus diundang untuk menjalankan pertobatan, antara lain para pelaku dan organisasi-organisasi kriminal, para koruptor, orang-orang yang menjadikan uang sebagai berhala baru. Kita semua pun diajak untuk bertobat, memperbarui haluan hidup dan mewujudkannya dalam tindakan nyata. Seperti orang banyak di dalam kisah Injil, kita diajak untuk selalu berbagi kehidupan (Luk. 3:10-11); seperti para pemungut cukai kita diundang untuk mengembangkan sikap hidup yang tulus dan jujur dalam menjalankan tugas (ay 12-13); seperti para prajurit kita dituntut untuk tidak pernah menggunakan kekerasan dalam bentuk apapun demi tujuan apapun (ay 14). Apa pun yang baik dapat kita lakukan untuk mewartakan kerahiman Allah yang membaharui kehidupan. Itulah yang kiranya dimaksudkan oleh Rasul Paulus dengan mengatakan “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang” (Flp. 4:5).

5. Marilah kita sambut dengan penuh syukur dan kegembiraan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah ini, dengan mengikuti anjuran Paus Fransiskus, menanggapi tawaran-tawaran yang disampaikan oleh Panitia Tahun Suci Kerahiman Allah Keuskupan Agung Jakarta, atau secara pribadi maupun bersama menemukan upaya-upaya kreatif yang lain. Semoga semua upaya kita membantu kita untuk semakin memahami dan mengalami kerahiman Allah yang membarui kehidupan. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

Sunday, January 12, 2014

SURAT GEMBALA PEMBUKAAN TAHUN PELAYANAN DAN PEMBERLAKUAN PEDOMAN DASAR DEWAN PAROKI 2014

Para Ibu/Bapak/ Suster/Bruder/Frater/ Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Tuhan,

1. Meskipun sudah agak terlambat, saya masih ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal 2013 dan Selamat Tahun Baru 2014. Yesus adalah Immanuel – Tuhan yang menyertai kita. Semoga penyertaan-Nya bagi kita masing-masing, keluarga-keluarga dan komunitas kita membantu dan menguatkan kita untuk semakin tekun dan setia menapaki peziarahan hidup kita di tengah-tengah tantangan-tantangan hidup yang semakin kompleks.

2. Pada hari ini bersama seluruh Gereja kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Ketika saya menyiapkan renungan ini saya ingat lagi akan seorang pribadi istimewa yang bernama Edith Stein. Ia lahir pada tahun 1891 dalam keluarga Yahudi yang amat saleh. Namun pada usia 14 ia sampai pada kesimpulan bahwa Allah tidak ada. Ia menulis, “Dengan sadar saya memutuskan, atas kemauan saya sendiri, untuk berhenti berdoa”. Sesudah beberapa lama menjadi perawat dalam Perang Dunia I, ia memutuskan untuk belajar filsafat, suatu disiplin ilmu yang selalu mengajukan pertanyaan mengenai hakekat realitas dan hidup manusia. Meskipun keputusan eksistensial untuk berhenti berdoa sudah diambil, tetapi pencarian mengenai arti hidup tidak pernah berhenti mengusik hatinya.

Edith Stein atau Santa Teresa Benedikta

3. Sampai pada suatu hari, ia berjumpa dengan seorang teman yang baru saja kehilangan suami karena meninggal. Edith Stein yang sampai waktu itu tidak percaya akan adanya Allah tersentuh oleh yang ia lihat dan alami sebagai “ketabahan ilahi” yang tampak pada diri temannya itu. Selanjutnya ia akan menulis bahwa kekuatan itu diberikan oleh salib kepada “orang-orang yang memikulnya … Saat itulah ketidakpercayaan saya runtuh dan Kristus mulai memancarkan sinar-Nya kepada saya”. Boleh dikatakan ketabahan ilahi yang ia saksikan dalam diri teman yang baru ditinggal oleh suaminya itu adalah salah satu wujud dari penampakan Tuhan. Pengalaman ini mengubah seluruh hidupnya. Pada tahun 1922 ia dibaptis ke dalam Gereja Katolik, masuk biara kontemplatif dengan nama Suster Teresa Benedikta dari Salib. Ia menulis wasiat :”Saya mohon kepada Tuhan untuk menerima hidup dan mati saya … sehingga kerajaan-Nya akan datang dalam kemuliaan … demi damai di dunia”. Sebagai orang yang berdarah Yahud, ia menjadi korban kebencian etnis dan meninggal pada tanggal 9 Agustus 1942 di kamp konsentrasi Auschwitz. Pada tahun 1987 Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai beata. Bagi Gereja semesta dan bagi dunia, Suster Teresa Benedikta adalah penampakan Tuhan.

4. Kisah orang majus dalam kutipan Injil yang dibacakan pada hari ini juga bercerita mengenai penampakan Tuhan. Tuhan menampakkan diri lewat berbagai isyarat seperti bintang (Mat 2:2.7.9.10) yang menuntun orang-orang majus itu menemukan Yesus; atau mimpi (ay 11) yang mengarahkan mereka pulang lewat jalan lain. Bintang dan mimpi bisa dipahami sebagai kemampuan batin untuk menangkap kehadiran Tuhan dalam peristiwa dan pengalaman hidup sehari-hari. Selain itu Tuhan juga menampakkan diri melalui tanda-tanda yang tidak terduga, yaitu orang-orang majus itu sendiri. Mereka tidak termasuk orang pilihan menurut paham umum pada jaman itu. Tetapi merekalah yang melihat Tuhan (ay 11), bersukacita karenanya (ay 10) lalu sujud menyembah-Nya (ay 11) dan pulang untuk menjadi terang dan memberitakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang agung (bdk Yes 60: 6).

Three_Kings

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

5. Sesuai dengan dinamika pastoral Keuskupan Agung Jakarta yang sudah direncanakan, kita semua akan menjalani tahun 2014 sebagai Tahun Pelayanan. Dengan sengaja Tahun Pelayanan dimulai pada Hari Raya Penampakan Tuhan. Semakin banyak dan kreatif bentuk-bentuk pelayanan yang kita lakukan, akan semakin tampak pula wajah Allah Sang Kasih. Adapun tema yang telah ditetapkan adalah Dipilih Untuk Melayani. Tema ini bisa dibaca dalam dua konteks. Dalam konteks gerejawi, memilih dan melayani adalah dua kata yang amat dekat dengan jatidiri kita sebagai murid-murid Kristus. Sementara dalam konteks tahun politik, tema itu bisa dikaitkan dengan pemilu legislatif dan pemilu presiden-wakil presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Harapannya agar para tokoh yang akan terpilih dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden benar-benar melayani demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Pada waktunya Konferensi Waligereja Indonesia akan mengeluarkan Surat Gembala yang berkaitan dengan tahun politik ini.

6. Tahun Pelayanan tidak bisa dipisahkan dari Tahun Iman dan Tahun Persaudaraan yang sudah kita jalani. Iman yang sejati akan berbuah persaudaraan. Belum atau kurang adanya persaudaraan merupakan tanda bahwa iman belumlah kuat dan mendalam. Selanjutnya persaudaraan yang sejati akan berbuah pelayanan yang tulus dan gembira. Persaudaraan yang tidak atau belum berbuah pelayanan kasih barulah egoisme dalam bentuk yang terselubung. Sementara itu pelayanan mempunyai isi dan pengertian yang amat kaya. Setiap usaha untuk semakin memuliakan martabat manusia, mewujudkan kesejahteraan umum, mengembangkan solidaritas, memberi perhatian lebih kepada saudari-saudara kita yang kurang beruntung dan melestarikan keutuhan ciptaan adalah pelayanan. Bentuk-bentuk pelayanan itu dapat kita temukan bersama kalau setiap kali kita bertanya, “Apa yang harus kita lakukan, agar lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi dan dengan sendirinya semakin Kristiani pula?” Pertanyaan sama yang diajukan oleh komunitas yang hidup dalam konteks yang berbeda, dengan mudah akan membuahkan jawaban yang berbeda pula. Dengan demikian kreativitas pelayanan akan berkembang pula. Semoga dengan kreativitas pelayanan yang kita usahakan bersama, wajah Gereja Yang Melayani akan menjadi semakin nyata di wilayah Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai ini. Antara lain dalam rangka menghadirkan wajah Gereja Yang Melayani itu pulalah, pada awal tahun 2014 ini diberlakukan Pedoman Dasar Dewan Paroki baru untuk semua paroki di Keuskupan Agung Jakarta.

" Apa yang harus kita lakukan, agar lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi dan dengan sendirinya semakin Kristiani pula?"

7. Akhirnya bersama-sama dengan para imam dan semua pelayan umat saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/Frater/ Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sekalian, yang dengan peran berbeda-beda telah ikut membangun Keuskupan Agung Jakarta sebagai Gereja yang semakin berwajah melayani. Amat banyak yang sudah kita lakukan. Kita yakin, melalui berbagai pelayanan sederhana yang kita lakukan dan prakarsa-prakarsa kreatif yang kita usahakan, baik sendiri maupun bersama-sama sebagai keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah, stasi, paroki maupun keuskupan, kita menampakkan kemuliaan Allah. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda sekalian, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

Jakarta, 1 Januari 2014

(tandatangan)

+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Monday, May 13, 2013

Penjelasan Arah Dasar Pastoral 2011 - 2015 KAJ



Penjelasan Umum

Apa yang dimaksud dengan Arah Dasar Pastoral?
Arah Dasar Pastoral KAJ adalah cita-cita yang dituju oleh Gereja Katolik di wilayah Jakarta, Tangerang dan Bekasi yang ingin bertumbuh dalam kesetiaan kepada Tuhan Yesus Kristus dan kepada bangsa kita. Dengan adanya Arah Dasar itu, kita semua didorong untuk merefleksikan situasi, kondisi dan tantangan khas kita bersama. Atas dasar hasil refleksi itu kita merancang perkembangan kita dari tahun ke tahun menuju keadaan yang dicita-citakan. Tentu saja, semua gerak bersama ini kita lakukan dalam keyakinan teguh bahwa Roh Kuduslah yang mendorong dan menuntun Gereja.

Friday, April 12, 2013

MGR SUHARYO MINTA UMAT KATOLIK UNTUK PERBAIKI KECENDERUNGAN JELEK DALAM MASYARAKAT

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengajak umat Katolik untuk menjadi manusia-manusia Paskah, yang berarti "mengambil bagian atau ikut berperan dalammemperbaiki 'arus berlawanan' di tengah kecenderungan jelek yang berkembang di tengah-tengah masyarakat." Permintaan itu diungkapkan oleh Mgr Suharyo di hadapan puluhan jurnalis dalam acara konferensi pers tentang Pesan Paskah di pelataran Wisma Keuskupan, Katedral Jakarta, tanggal 31 Maret 2013, seusai memimpin Misa Paskah.


Di tengah suasana di mana kekerasan semakin merebak, Mgr Suharyo berharap agar umat Katolik menghadirkan arus kesetiakawanan,
"sehingga keadaan damai bisa tercipta di tengah masyarakat," dan agar umat Katolik "mengalirkan arus kebaikan bersama di tengah derasnya arus kecenderungan buruk di tengah masyarakat." Kekerasan yang semakin menjamur di berbagai wilayah negara Indonesia, kata Uskup Agung Jakarta yang juga Administrator Apostolik Keuskupan Bandung itu, "menandakan bahwa martabat manusia semakin dilecehkan, kebaikan bersama semakin diabaikan, kepentingan kelompok menggilas kepentingan umum."


Selanjutnya Ketua Konferensi Waligereja Indonesia itu mengajak umat Katolik yang merayakan Paskah agar melakukan kebaikan bersama menjadi keseharian hidup mereka. "Jika berpikir melakukan sesuatu di level nasional terlalu berlebihan, mulailah melakukan hal yang paling sederhana di tingkat RT, RW dan kampung-kampung. Inilah wujud menjadi manusia Paskah pada zaman ini," kata Mgr Suharyo.
Menjawab pertanyaan seorang wartawan media cetak dari Surabaya tentang fenomena kekerasan yang semakin merajalela, Mgr Suharyo menjelaskan bahwa sedikitnya ada tiga faktor yang memicu kekerasan di berbagai tempat yakni pendidikan, aliran fundamentalis agama dan masalah kesenjangan ekonomi.

Dijelaskan bahwa begitu banyak hal yang terkait di balik kekacauan yang terjadi di tengah masyarakat. "Yang paling penting dari semua itu adalah penegakan hukum bagi yang melanggar hukum, karena sepanjang pelanggar hukum atau undang-undang tidak diberikan sanksi
semestinya, maka dipastikan kekerasan akan terus dilakukan oleh oknum-oknum tertentu," tegas mantan Uskup Agung Semarang itu.

Mgr Suharyo juga menyampaikan terima kasih kepada para jurnalis yang mewartakan pesan Paskah kepada seluruh umat Katolik. "Saya berterima kasih karena tugas Anda ikut mengembangkan budaya damai dengan melakukan tugas peliputan Paskah," ungkap Mgr Suharyo.
Sebelumnya pada pukul 09.00 WIB, Mgr Suharyo memimpin Misa Paskah meriah di Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, didampingi Vikaris Jenderal Pastor Yohanes Subagyo Pr, Sekretaris Keuskupan Pastor Yohanes Purbo Tamtomo Pr, Kepala Paroki Katedral Pastor Stephanus Bratakartana SJ, dan Pastor Rekan Katedral Pastor Antonio Antoro Pr. Dalam kotbahnya Uskup menceritakan sosok manusia Paskah seperti Ibu Teresa dari Calcuta. "Walaupun pernah mengalami kegelapan spiritualitas, toh sosok ini menjadi panutan bagi umat Katolik, melakukan kebaikan dengan mengembangkan cara-cara yang semakin kreatif." ***

Sumber: Pen@ Indonesia.