Jl.Tanjung Pasir No. 02 Teluknaga, Tangerang eddystrada@gmail.com 0812-9802-2717 skypeid

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, May 5, 2016

Ziarah dan Rekreasi ke Teluknaga

Goa Maria Immaculata Teluknaga
Ziarah dan rekreasi ( ZIREK ) adalah kegiatan yang banyak disukai keluarga keluarga katholik tentu termasuk saya. Untuk itu kami memposting tulisan untuk promosi kegiatan ziarah dan rekreasi ke Teluknaga dan sekitarnya khususnya ziarah ke Goa Maria Immaculata Teluknaga.

Rekreasi ke Teluknaga tentu Tanjung Pasir menjadi tujuan utama. Bagi yang berkantong minimalis (bercanda-red) anda bisa menikmati pantai tanjung pasir, penangkaran buaya atau nyeberang ke pulau seribu dengan ongkos penyeberangan yang tidak terlalu mahal. Nah bagi yang berkantong  tebal bahkan super tebal anda bisa ke Tanjung Pasir Resort ( untuk pengelola Tanjung Pasir Resort ini aku promosiin jangan lupa komisinya..ha ha ha eh bercanda lagi ) berikut sedikit ulasannya.

Bagi yang gemar memancing bisa beradu ketangkasan serta keberuntungan di tambak ikan bandeng dan kakap putih. Jika anda beruntung akan mendapat ikan bandeng atau kakap. Ikan yang sudah terkena pancingan tidak bisa dikembalikan ke tambak dan harus dibeli.

Bagi yang gemar berfoto, silakan mengabadikan keindahan pemandangan alam kawasan ini. Ada Pulau Anggrek, hamparan bunga bougenville berwarna merah jambu, merah, hingga jingga.

Image result for tanjung pasir resort
Salah satu bagian Tanjung Pasir Resort
Bagi yang gemar wisata kuliner di Tanjung Pasir Resort terdapat Restoran yang menyajikan olahan bandeng tanpa duri. Masih penasaran dengan olahan bandeng tanpa duri lainnya? Tersedia pilihan lain, seperti woku tidak pedas atau pedas (pesanlah sesuai selera), goreng garing, dan goreng cabe rica (sambal cabai). Pilihlah juga menu lauk tambahan lain, seperti udang saus telur asin dan salad udang Vannamae, cumi masak ala Tanjung Pasir dan cumi woku, kerapu steam bawang putih, nila asam manis, atau gurami bakar asap.

Ingin berenang dan bermain sepeda air? Di sinilah tempatnya. Atau ingin mencari suasana lain? Berpindahlah ke restoran di Pulau Anggrek sekaligus tempat pemancingan yang masih berada di kompleks Resor Tanjung Pasir seluas 41 hektar itu.

Menuju Tanjung Pasir tidak sulit. Lokasinya hanya 15-20 menit berkendara dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Teluk Naga atau sekitar 1 jam dari Jakarta. Begitu tiba di Teluk Naga, perhatikan petunjuk arah menuju Tanjung Pasir (arah belok kanan). Resor ini terdapat di sisi kiri jalan.

Selain resor, di Tanjung Pasir juga ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sebelum sampai di resor, ada tempat penangkaran buaya. Bagi yang mau belanja ikan segar, ada tempat pelelangan ikan sekitar 300 meter dari resor.

Lebih dekat ke arah pantai, ada dermaga Tanjung Pasir untuk menuju ke Pulau Untung Jawa dan sekitarnya di Kepulauan Seribu. Dermaga ini cukup ramai, terlebih pada pagi hari, seiring makin banyaknya wisatawan menuju Kepulauan Seribu.

Friday, May 9, 2014

Rakyat yang Disalibkan

Romo Benny
“DARI jurang yang paling dalam, kami mengeluh pada-Mu Ya Allah. Mengapa Engkau meninggalkan kami dalam ketidakberdayaan ini?”Begitu doa rakyat miskin di negeri yang subur ini.

Jeritan ketidakberdayaan kaum tertindas menghiasi berbagai ranah publik. Buruh sering tidak dianggap sebagai manusia walaupun jelas-jelas manusia. Kebijakan perusahaan dan pemerintah kerap tidak memperhitungkan segi-segi kemanusiaannya.

Buruh identik dengan mesin produksi, dan sering dianggap hanya sebagai sapi perahan. Para petani tidak mendapatkan dukungan nyata. Sawah ladangnya terancam punah, dialihfungsikan.

Mereka terus dikecewakan oleh hantu yang bernama “elite politik dan oligarki”. Rakyat sering menggunjingkan mereka, dan katanya satu-satunya pekerjaan yang bisa membuat mereka senang dan kaya adalah mengorup hak kaum rakyat.

Demi kepentingan kekuasaan, rakyat miskin dibuat tak berdaya. Mereka selalu dikalahkan dengan sistem yang penuh dengan kelicikan dan akal busuk.

Politik akal busuk memerdayakan masyarakat marjinal yang hidup bergantung pada kebaikan orang lain. Perubahan tak pernah menyentuh mereka karena kaum miskin dianggap sebagai orang tak punya daya kuasa untuk menjadi dirinya sendiri.

Kaum miskin tetap tersalib oleh struktur pasar yang tentu tak mengenal belas kasih. Dia tersalib karena kaum miskin hanya dijadikan tumbal dalam proses pembangunan. Tenaganya dieksploitasi, hatinya dipenuhi dengan bermacam-macam janji perubahan oleh penguasa, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya.

Nasib kaum miskin (nelayan, petani, buruh, dkk) tersalib akibat kebijakan yang pro-orang kaya kroni kekuasaan. Mereka tak mampu lagi hidup layak berkecukupan. Hidup mereka menjadi berat karena harga kebutuhan sehari-hari menjadi naik luar biasa, dan jangan berpikir pendapatan mereka juga akan bertambah. Hidup mereka semakin susah karena para pemangku zaman yang tidak mau berpihak pada mereka.

Terkadang mereka berpikir buat apa bekerja keras sesusah ini, toh juga tak menghasilkan perubahan yang berarti. Kaum miskin tetaplah pihak yang diakalbulusi oleh dua raksasa besar, yakni poros negara dan poros badan publik. Keduanya sering licik dengan mengeluarkan kebijakan yang orientasinya hanya melindungi kapital yang korup daripada menyejahterakan nasib wong cilik.

Kaum miskin diakalbulusi oleh kebijakan yang orientasinya hanya menguntungkan kroni penguasa. Mereka ditipu bahwa sebuah kebijakan seolah-olah logis, tetapi di lain pihak mematikan daya hidupnya. Kroni kapitalisme yang ada sekarang ini, di negeri ini, ketika menyatu dengan kekuatan pengambil kebijakan, tidak pernah berpihak pada mereka.

Para pemilik modal berkuasa karena mereka mampu membeli para birokrat. Birokrat di negeri ini hanya menjadi perpanjangan tangan kaum kroni kapitalis yang orientasinya semata-mata demi mencari untung berambisi lebih kaya yang tidak ada habisnya.

Elite politik sendiri sering mengaku tak kuasa menahan derasnya desakan kekuatan modal korup, yang ujung-ujungnya menjelma menjadi kuasa politik tersendiri. Persekutuan politik dan modal semacam inilah yang membuat tata kehidupan bangsa menjadi kehilangan keseimbangan.

Di sinilah kita menghadapi masalah besar: hilangnya keadaban publik. Keadaban publik hancur karena poros masyarakat sebagai pemilik kedaulatan politik, ekonomi, budaya tidak lagi berdaulat.

Kehidupan ini bergantung pada kekuatan modal yang menjelma dalam berbagai kekuatan media. Lewat media yang dikuasai para elite itulah perilaku kebangsaan dibentuk oleh pasar dengan mengedepankan hal-hal yang menyenangkan panca-indrawi belaka.

Situasi tersalib itulah membuat yang mata hati kehilangan kejernihan dalam melihat masalah mendasar yang ada saat ini. Elite politik telah buta dan tuli mendengar tangisan rakyatnya. Mereka pura-pura memiliki empati, tetapi sejatinya hanya bualan belaka. Derita kaum miskin tidak lagi menjadi pilihan mereka untuk benar-benar mau berbagi dengan kesusahan mereka.

Kaum Miskin Tersalib

Teriak-teriak para elite adalah membela kaum miskin, namun realitasnya kaum miskin dibiarkan tergusur dan dirinya sendiri yang dibela. Tak ada yang salah ketika gunjingan rakyat di warung kopi menyatakan bahwa janji elite selama ini hanya janji untuk pemanis belaka. Dan janji yang sekadar janji itulah yang membuat kaum miskin tersalib.

Ketersaliban itulah yang membuat cara berpikir, berperilaku, dan merasa menjadi reaktif dalam menghadapi masalah. Lalu, kehidupan kita hanya didasari oleh hal-hal yang menipu mata hati.

Hilangnya mata hati itulah yang menyilaukan kehadiran Tuhan di sekitar kita. Tuhan menjadi jauh dengan kita karena kaum miskin mereka salib. Tuhan menjadi jauh dengan kita karena kita tidak punya hati terhadap kaum miskin yang jumlahnya setiap saat bertambah ini.

Kita menjauh dari Tuhan karena tangan kita menindas kaum miskin.

Mata kita menyingkirkan kehadiran mereka. Bukankah Dia yang tersalib adalah Dia yang menderita karena dosa kita yang menyalibkan mereka yang tak berdaya? Dia tersalib karena dosa kita membiarkan kaum miskin kelaparan, kehausan, dan kehilangan tempat tinggal. Dia tersalib karena dosa kita yang membiarkan tanah mereka digusur dijadikan lapangan golf dan perumahan mewah.

Dia tersalib karena kita diam dengan persekutuan kaum pemodal dan elite politik. Dia yang tersalib ada bersama mereka yang berjuang untuk tegaknya keadilan di Bumi ini.

Paskah Sejati

Paskah sejati adalah kemauan untuk merenungkan dan kembali membela kaum tergusur. Itulah Paskah sejati yang ada dalam diri mereka yang haus akan keadilan. Haus akan kebenaran dan haus akan cinta kepada mereka yang miskin dan papa. Itulah Paskah yang membebaskan manusia dari kuasa kerakusan akan harta dan jabatan. Paskah berarti dia harus berani melewati lorong gelap seorang diri.

Paskah seharusnya membuat nilai-nilai kemanusiaan kita diperbarui dalam kehidupan ini. Mari kita rayakan Paskah bersama dengan merindukan datangnya Sang Fajar sejati. Para kaum tersalib di negeri ini harus bangkit menorehkan harapan baru berkehidupan.

Penulis adalah rohaniwan
Artikel ini telah diterbitkan di situs koranjakarta.com pada 16 April 2014.

Wednesday, April 3, 2013

Telur Paskah

Telur dan Paskah telah menjadi sinonim yang begitu melekat. Sehingga tak heran jika Anda sering mendengar “Telur Paskah” terutama di bulan-bulan Paskah seperti saat ini. Telur merupakan paket yang sempurna dari alam. Sepanjang rentang sejarah, telur telah mewakili misteri, sihir, obat-obatan, makanan dan pertanda. Telur menjadi simbol yang universal dari perayaan Paskah di seluruh dunia. Sebagai simbol khusus dari perayaan ini, telur ada yang dicelup, diwarnai, dihias dan diperindah.


Sebelum telur identik dengan Paskah Kristen, telur juga dipergunakan di berbagai ritual festival musim semi. Bangsa Romawi, Galia, Cina, Mesir dan Persia, semua menggunakan telur sebagai simbol alam semesta. Dari zaman dahulu telur telah dicelup, sebagai bahan pertukaran dan menunjukkan penghormatan.

Pada zaman Pagan, telur mewakili kelahiran kembali dari bumi. Musim dingin yang panjang dan masa sulit telah berlalu; bumi kembali bersemi dan dilahirkan kembali bagaikan telur ajaib yang meledakkan kehidupan. Oleh karena itu telur dipercaya memiliki kekuatan khusus. Kekuatan itu terkubur di dalam cangkang untuk menangkal kejahatan; wanita muda Romawi yang sedang hamil juga membawa telur untuk menentukan jenis kelamin anak mereka yang belum lahir; pengantin Prancis melangkahi telur sebelum melintasi ambang rumah baru mereka.

Dengan munculnya Kekristenan, simbolisme telur pun berubah. Telur tidak lagi mewakili kelahiran kembali dari alam melainkan kelahiran kembali dari manusia. Orang Kristen menggunakan simbol telur dengan menyamakannya sebagai makam dimana Kristus bangkit.

Legenda cerita rakyat Polandia kuno dicampur dengan keyakinan Kristen semakin mengokohkan telur dengan perayaan Paskah. Terdapat sebuah legenda mengenai Perawan Maria yang memberikan telur kepada para prajurit yang ada di kayu salib. Maria memohon agar para prajurit tidak bertindak terlalu kejam kepada Yesus dan ia menangis. Air mata Maria jatuh ke atas telur dan mereka melihat air mata itu sebagai titik-titik air dengan warna yang cemerlang.

Legenda Polandia lainnya menceritakan ketika Maria Magdalena yang pergi ke makam Yesus untuk mengurapi tubuh-Nya. Ia membawa keranjang telur yang dipakainya untuk melayani sebagai suatu jamuan. Ketika ia tiba di makam Yesus dan membuka keranjangnya, ia menemukan telur-telur itu secara ajaib telah berubah warna menjadi warna-warni pelangi yang indah.

Menghias dan mewarnai telur saat Paskah merupakan kebiasaan di Inggris selama abad pertengahan. Anggaran rumah tangga dari Raja Edward I di tahun 1290, mencatat pengeluaran delapan belas pence untuk empat ratus lima puluh telur yang diwarnai dan diberi daun emas sebagai hadiah Paskah.

Hiasan telur Paskah yang paling terkenal dibuat oleh tukang emas yang sangat terkenal, Peter Carl Faberge. Di tahun 1883 tsar Rusia, Alexander, menugaskan Faberge untuk membuat hadiah Paskah spesial bagi istrinya, Ratu Marie.

Telur pertama Faberge merupakan telur di dalam telur. Telur itu berupa cangkang platinum dengan enamel putih yang dapat dibuka dan di dalamnya tersimpan telur emas yang lebih kecil. Telur yang lebih kecil pada gilirannya dibuka dan menampilkan ayam emas dan replika permata dari mahkota imperial.

Telur spesial Faberge ini begitu menyenangkan sang ratu dan Tsar segera memerintahkan Faberge untuk merancang telur itu lebih lanjut untuk diberikan setiap Paskah. Bertahun-tahun klemudian Nicholas II yang juga merupakan putra dari Alexander, meneruskan kebiasaan itu. Secara keseluruhan ada lima puluih tujuh telur yang dibuat oleh Faberge.

Desainer telur hias percaya pada simbolisme telur dan mereka menghiasi telur dengan dekorasi seni yang luar biasa. Beberapa menggunakan bunga dan daun dari kartu ucapan, malaikat kecil, permata dan kain yang elegan, manik-manik dan trim, untuk menghiasi telur. Telur-telur itu dipisahkan, diberi engsel dengan hati-hati dan direkatkan dengan epoxy dan semen yang transparan, dan setelah selesai, telur-telur itu akhirnya ditutupi dengan resin yang mengkilap. Meskipun pertanda dan misteri telur telah menghilang di zaman ini, namun simbolismenya tetap bertahan, dan para seniman meneruskan tradisi dunia lama untuk menghiasi telur.

Pada dasarnya Paskah bukan tentang telur hias yang indah dan menarik serta melambangkan awal kehidupan dan kelahiran baru dari manusia, namun bagaimana kita sebagai orang percaya dapat memaknai Paskah dengan kematian Yesus di kayu salib untuk menebus dosa setiap kita dan kebangkitan-Nya mengalahkan maut yang membuat dosa dan maut tak lagi berkuasa atas-Nya. Dan sebagai anak-anak Tuhan, kita pun memiliki kuasa yang sama untuk menang atas dosa dan kematian yang kekal.

Sumber : forumkristen

Monday, August 27, 2012

Santa Maria Immaculata


Semua manusia lahir di dalam belenggu dosa asal yang diwariskan Adam dan Hawa. Oleh karena itu, semua manusia dinyatakan “berdosa” sejak lahir. Oleh karena warisan dosa asal itu melekat erat pada kemanusiaan kita, kita tampaknya lebih cenderung dan mudah untuk berdosa dan melakukan kejahatan dari pada melakukan kebajikan-kebajikan. Kita kelihatan lamban sekali melakukan kebajikan-kebajikan. Kita lebih cenderung menjauhi Tuhan dari pada mendekatiNya untuk menikmati kebaikan dan cintaNya.

“Pada hari ini terbitlah setangkai tunas dari akar Jesse; pada hari ini pun Maria dikandung tanpa cela dosa”. Demikian bunyi antifon Magnifikat. Gereja merayakan “perkandungan Maria tanpa noda dosa” untuk mengingatkan kepada seluruh umat betapa luhurnya martabat Maria sebagai Bunda Penebus. Maria adalah satu-satunya manusia yang dikecualikan Allah dari warisan Adam itu. Sesungguhnya dara murni ini adalah manusia biasa sama seperti kita; ia juga keturunan Adam. Sebagaimana kita, ia pun hidup di dalam dunia yang penuh dosa ini. Namun ia punya keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun juga. Ia sudah sejak kekal ditentukan Allah untuk menjadi Bunda PuteraNya, Sang Penebus dunia.

Ia ditentukan untuk melahirkan Yesus, Anak Allah, dan karena itu sejak awal hidupnya, ia dipersiapkan untuk mengemban tugas luhur ini. Melalui dialah, Tuhan menyalurkan rahmat penyelamatanNya kepada manusia. Tuhanlah sumber rahmat. Sebagai saluran rahmat Allah bagi manusia, maka sudah selayaknya Maria itu penuh rahmat dan suci tak bercela. Demikian ia ditebus dengan cara yang paling sempurna. Dikandung tanpa noda dosa, suci dan tak bercela di hadapan Allah.